Family Planning

Keluarga merupakan pilar utama penyangga kehidupan bermasyarakat. Kelompok masyarakat terkecil inilah yang terkadang luput dari perhatian, padahal kuat lemahnya sebuah keluarga akan menentukan bangunan sebuah negara.

Pentingnya merencanakan sebuah keluarga perlu dilakukan. Keluarga berencana (family planning) yang dikenal pada era delapan puluhan, biasanya hanya satu poin yang diperhatikan yaitu mengenai perencanaan anak. Family planning harus dilakukan secara menyeluruh sejak pranikah.

 

Merencanakan pernikahan

Pernikahan harus diniatkan ibadah karena dengan menikah kita mengikuti sunah nabi. Dengan meniatkan ibadah, maka amal kebaikan dalam keluarga bernilai ibadah disisi Allah. Persiapan menjelang pernikahan juga harus mantap meliputi persiapan fisik, mental, sosial dan finansial.

Persiapan fisik dan mental antara lain dengan mengkaji berbagai landasan ilmu tentang keluarga dan problematikannya. Pada saat ini buku-buku tentang pernikahan dan keluarga sudah sangat banyak. Pengetahuan tentang keluarga juga bisa kita dapatkan di internet, kajian-kajian, seminar dan taklim-taklim.

Belajar dalam memahami anatomi pernak-pernik pernikahan dan keluarga harus dipahami secara komperhensif. Landasan syar’i dalam menikah sudah jelas dijamin dengan perintah Allah SWT.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki serta hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui." (QS. 13 : 38).

Langkah-langkah kongkrit dalam menjemput jodoh juga harus dilakukan dengan matang dan penuh kesungguhan. Urusan jodoh memang mutlak ditangan Allah,namun sebagai manusia harus memaksialkan ikhtiar dalam menggapainya. Jodoh adalah di tangan Allah, dan kita harus berusaha mengambilnya dari tangan Allah SWT. Ikhtiar dan berdoa dengan maksimal, kemudian tawakal kepada Allah.

Ada rumus singkat menjemput jodoh yang insya Allah sudah teruji. Rumus tersebut adalah 3P2M (Perkenalan 1, Perkenalan 2, Perkenalan 3, Melamar dan Menikah).

Setiap tahapan mempunyai aturan main dan target yang jelas. Perkenalan pertama (P1) melalui perantara atau pendamping saling tukar biodata lengkap, tetapi tidak mencantumkan alamat detail atau data kontak person. Diperlukan waktu sekitar dua minggu untuk mempelajari data yang diberikan. Kalau data cocok maka diteruskan ke jenjang perkenalan kedua (P2), kalau tidak cocok otomatis batal.

Tahap perkenanlan kedua adalah pertemuan dengan ditemani pendamping yang terpercaya. Tujuan pertemuan ini adalah untuk untuk menggali data dan visi misi, sekaligus melihat fisik. Format dialog dan diskusi mendalam agar tergali semua informasi diri.

Kemudian dilanjutkan perkenalan tahap tiga (P3), yaitu berkenalan dengan kedua orang tua untuk melihat lingkungan dan nashab. Perlu diingat jangan terlalu memberikan harapan muluk-muluk kepada ortu terlebih dahulu, terutama pihak perempuan. Sampaikan saja teman dari majelis taklim atau teman pengajian ingin main ke rumah. Target dari perkenalan tahap tiga ini adalah untuk mempelajari dan mengenal lingkungan dan orang tuanya, sehingga memiliki gambaran latar belakang keluarga yang bersangkutan.

Semua tahapan dalam perkenalan memakai sistim gugur, jika salah satu pihak tidak setuju maka otomatis batal tidak bisa diteruskan ke jenjang berikutnya. Batas waktu tiap tahapan masa perkenalan minimal 2 minggu sampai satu bulan untuk istikharoh.

Setelah semua tahapan perkenalan dilewati dengan mantap, maka memasuki tahapan berikutnya yaitu melamar (M1). Dalam melamar usahakan sudah ada kesepakatan waktu melangsungkan pernikahan, lebih cepat akan lebih baik.

Setelah melamar maka tahapan berikutnya adalah menikah (M2). Lima tahapan sampai saat menikah tersebut dibatasi 3-5 bulan, jika tidak ada kepastian maka secara otomatis proses dianggap batal.

Mental yang tangguh dan fisik yang sehat diperlukan dalam ikhtiar menjemput jodoh. Untuk kebugaran fisik dapat dilakukan dengan berolahraga dan makan yang teratur.

Persiapan mental dengan melakukan berbagai aktifitas keilmuan tentang pernikahan dan keluarga. Dengan banyak ilmu, diharapakan menambah keberanian menapaki titian berumah tangga ke depan.

Persiapan sosial dan finansial juga mutlak dilakukan, karena akan menentukan proses menghadapi hidup berkeluarga yang membutuhkan biaya. Status sosial sangat berperan dalam menjamin kehidupan keluarga sebagai makhluk sosial. Ulet dan tekun dalam menjalani profesi akan membuahkan hasil sosial dan finansial.

Merancang keturunan

Salah satu tujuan pernikahan adalah melangsungkan generasi penerus keturunan. Perencanaan dalam melahirkan keturunan juga harus dilakukan secara matang. Penting sekali rasanya mengatur jarak keturunan agar mampu menjaga amanah keturunan yang berdaya.

Perhatian mendidik anak disiapkan sejak janin dalam kandungan. Merencanakan jarak anak berikutnya juga harus dilakukan, agar mendapatkan porsi yang tepat dalam membesarkan anak.

Manajemen keuangan keluarga

Yang tidak kalah pentingnya adalah mengelola keuangan keluarga. Semangat dalam menjemput karunia rejeki Allah harus digelorakan. Membuka 19 pintu rejeki dengan mengoptimalkan wiraswasta dan aktivitas bisnis menjadi tantangan dan peluang dalam mencapai kemandirian dan kesuksesan finansial.

Setelah mendapatkan pemasukan harus bisa mengelola keuangan keluarga denga disiplin dan bijaksana. Jumlah pengeluaran tidak boleh melebihi jumlah pemasukan. Usahakan menyisihkan 10% dari total pemasukan untuk ditabung. Tabungan sangat penting untuk persiapan masa depan.

Manajemen komunikasi keluarga

Komunikasi yang baik dan lancar adalah faktor utama dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Kesibukan menjalani rutinitas harus disiasati agar ada waktu luang bercengkrama dengan keluarga.

Perhatian dan saling pengertian adalah kunci utama komunikasi.

Manajemen konflik

Rumah tangga bagaikan bahtera yang mengarungi samudera luas. Terkadang badai dan gelombang datang menyerang. Sang nahkoda harus bisa mengendalikan bahtera dengan sabar agar bahtera tidak hancur dan tenggelam dengan mengerikan.

Segera mengakui kesalahan dan saling memaafkan kemudian taubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat adalah resep mujarab untuk menyelesaikan konflik keluarga.

Menggapai keluarga sakinah

Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tenang, diam sepi dan membisu. Keluarga sakinah adalah keluarga yang dinamis dan penuh berkah. Kepiawaian kepemimpinan kepala keluarga dan dukungan seluruh anggota keluarga merupakan syarat mutlak menggapai keluarga sakinah.

Keluarga sakinah bukan berarti keluarga bebas masalah, tapi sakinah akan tercapai manakala bisa menghadapi masalah dan menyelesaikannya sehingga ketenangan dan ketentraman keluarga itu terca pai.

Ketenangan dan ketentraman dalam keluarga akan tercapai jika semua anggota keluarga tetap dalam keadaan sabar dan istoqomah dalam jalan Allah dalam segala kondisi. Sabar ketika menghadapi musibah dan masalah serta sabar dalam menerima kesenangan dengan tidak berlebihan dan bermewah-mewahan.

Kesabaran dalam jalan dakwah adalah kunci yang akan mendatangkan ketenangan keluarga. Wallohu’alam.

Penulis Agus Widodo Ketua LSM Bina Keluarga Sakinah