Ramadhan Momentum Perbaikan Moral

Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan pembangunan yang tepat dan berkualitas apalagi negeri kita belum beranjak dari krisis. Kualitas SDM merupakan faktor utama penopang pembangunan di negeri kita. Namun, sepertinya kita tidak dapat terlalu berharap dengan kualitas SDM Indonesia saat ini. Kerusakan moral merajalela di seluruh lapisan masyarakat. Secara disadari maupun tidak disadari kerusakan moral semakin dasyat menyerang generasi muda bangsa ini. Salah satu faktor penyebab menyebarnya kerusakan moral bangsa ini adalah kesalahan dalam mengakses informasi. Kebebasan informasi yang saat ini dinikmati bangsa ini di satu sisi sangat bermanfaat dalam meningkatkan kecerdasan masyarakat, namun disisi lain penyebaran informasi negatif yang mengakibatkan kerusakan moral bangsa ini juga tidak terkendali.

Sebuah penelitian sangat mencengangkan mengingat 30% pelajar melakukan seks bebas. Yang lebih menyedihkan lagi para pelajar tersebut menganggap perilaku seks bebas sebagai gaya hidup atau bagian dari pergaulan.

Perilaku amoral yang diimpor dari Barat ini diduga menjadi pendorong utama penyebaran HIV Aids. Di tingkat nasional, Dr Boy Abidin SpOG mengungkapkan seks bebas mencapai 22,6 % di kalangan remaja kita (Detik.com). Seks bebas selain berdampak pada peningkatan penderita penyakit kelamin juga menjadi faktor pendorong tingginya angka aborsi di Indonesia. Setiap tahun di Indonesia diperkirakan terjadi 2,5 juta kasus aborsi. Di tingkat Asia kasus aborsi berdasarkan data tahun 1997 mencapai 27 juta kasus (community.kompas.com).

Lalu apa tindakan kita, diam tidak menyelesaikan masalah. Salah satu alternatif membentengi dari rusaknya tatanan kehidupan moral adalah dengan memantapkan pondasi benteng keluarga dari informasi dan pengaruh hidup negatif.

Momentum Ramadhan1431 adalah saat tepat kembali ke titik nol untuk memulai hidup dengan membersihkan moral dari perilaku yang tidak lurus. Allah sungguh Maha Adil bagi hamba-hambaNya yang mampu memetik hikmah dari kehidupan di dunia ini. Setelah bangsa ini disuguhi dengan hiruk pikuk informasi dan tontonan yang menjijikkan, saatnya bulan Ramadhan ini sebagai tonggak awal memulai mensucikan diri (tazkiyatu an-nafs), dengan setulus-tulusnya.

Pada dasarnya, bulan Ramadhan mampu mengubah persepsi dan perilaku seorang muslim sedemikian rupa. Orang fasik menjadi malu menampakkan kefasikannya; orang munafik menjadi enggan mempertontonkan kemunafikannya; orang zalim pun mengurangi intensitas kezalimannya. Orang shaleh makin bersemangat menambah amal baiknya daripada bulan-bulan lainnya.

Mesjid-mesjid, majelis taklim, forum-forum kajian keislaman, dan sejenisnya penuh sesak dipadati oleh kaum Muslim. Fenomena seperti ini tidak hanya kita temukan di lingkungan masyarakat secara umum, bahkan di kalangan para pejabat dan selebritis pun menampakkan hal yang sama. Media massa pun tidak ketinggalan, terutama televisi, menayangkan acara-acara yang bernuansa bulan Ramadhan, mengurangi tayangan-tayangan yang menjurus pada pornografi dan kekerasan.

Kaum Muslim menyadari, bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk mensucikan diri (tazkiyatu an-nafs), sehingga di bulan ini mampu tercipta atmosfir keimanan, suasana kebaikan, dan perasaan yang peka terhadap ajaran-ajaran Islam. Namun sayang, fenomena ini hanya ada di bulan Ramadhan saja. Bulan berikutnya, pasca Ramadhan, kembali bergelimang dengan dosa; tidak takut mendemonstrasikan kefasikan, kemunafikan, dan kezaliman; tidak takut kepada murka dan adzab Allah. Kalau begitu, apa pengaruh bulan Ramadhan bagi kita? Bukankah kalau bulan Ramadhan kita jadikan sebagai momentum untuk mensucikan diri, maka pasca Ramadhan mestinya kita bagaikan terlahir kembali, kembali suci? Pasca Ramadhan mestinya ketakwaan seorang Muslim akan semakin bertambah. Ketaqwaan yang lahir dari ketundukan kita pada perintah Allah dan penghindaran diri kita dari perkara yang diharamkan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah [2]: 183).

 

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- saat Ramadhan tiba bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, Allah telah wajibkan atas kalian puasa di siang harinya, pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu, pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang (H.R. Ahmad).



Kiat Sukses Sambut Ramadhan

 

1. Ikhlas (murni) untuk Allah SWT dalam segala ibadah yang kita lakukan.

2. Sambut kedatangan bulan Ramadhan dengan gembira

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, Allah telah wajibkan atas kalian puasa di siang harinya. (H.R. Ahmad).

3. Merasakan pahala yang agung yang telah Allah SWT siapkan untuk orang-orang yang berpuasa.

“Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya” (H.R. Bukhari)).

4. memperbanyak berbagai bentuk ibadah.

5. Memahami dengan baik keberkahan-keberkahan yang ada di bulan Ramadhan.

a. Keberkahan cita rasa keimanan. Hal ini bisa kita saksikan betapa pada bulan ini seorang mukmin terlihat sangat kuat keimanannya, hatinya hidup, selalu tafakkur, dan cepat ingat dan sadar. Hal ini tentunya merupakan bagian dari pemberian Allah SWT yang dilimpahkan kepada para hamba-Nya. Jika kita merasakan adanya keberkahan ini tentulah kita akan termotivasi dan tergugah semangat kita untuk beribadah.

b. Keberkahan kekuatan fisik. Saat seseorang berpuasa, walaupun ia tidak makan dan minum, namun sebenarnya kekuatan fisiknya sedang bertambah, sehingga akan terasa ringan baginya untuk menjalankan berbagai ibadah, baik berupa shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, tarawih dan sebagainya.

c. Keberkahan waktu. Saat kita berada di bulan Ramadhan, dalam satu hari satu malam kita mampu melakukan berbagai ibadah yang jika diukur secara kuantitatif mungkin sesuatu yang baru bisa kita lakukan dalam beberapa hari di luar Ramadhan. Hal ini adalah tanda keberkahan waktu yang Allah SWT berikan kepada para hamba-Nya di bulan Ramadhan.

Jika kita menyadari hal ini pastilah akan termotivasi untuk memperbanyak amal ibadah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Allahu A’lam.

sumber: www.dakwatuna.com